Daftar Isi
- Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Ringkasan Plot Utama
- Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Karakter yang Membekas
- Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Gaya Bahasa dan Teknik Narasi
- Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Tema dan Pesan Moral
- Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Kelebihan dan Kekurangan
- Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Rekomendasi Pembaca
Kalau kamu penggemar Tere Liye, pasti udah nggak sabar menunggu karya terbarunya yang berjudul Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan. Novel ini muncul sebagai jawaban atas rasa penasaran pembaca yang ingin menyelami kembali tema cinta yang tak lekang oleh waktu, sekaligus menambah bumbu kehilangan yang bikin hati berdebar. Dari sampulnya yang simpel sampai tulisan tangan Tere yang selalu mengalir lembut, ada banyak hal yang bikin mata penasaran.
Di balik judulnya yang terdengar seperti kombinasi antara ulasan dan karya fiksi, Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan ternyata adalah sebuah novel yang memadukan dua elemen penting dalam literatur romantis: kebahagiaan dan duka. Tere Liye memang terkenal dengan kemampuan menulis yang bisa membuat pembaca tertawa, menangis, bahkan berpikir lagi tentang arti hubungan manusia. Jadi, mari kita kupas tuntas apa yang membuat novel ini layak masuk dalam daftar bacaan wajib bagi kamu yang suka cerita hati.
Sebelum masuk ke detail plot, ada baiknya menyiapkan secangkir teh hangat (atau kopi, kalau kamu lebih suka) dan menyiapkan ruang hati yang terbuka. Karena Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan tidak sekadar mengisahkan dua insan yang bersatu, melainkan juga menyoroti bagaimana bulan—sebagai metafora—mampu menyinari sekaligus menutupi jejak‑jejak emosi kita.
Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Ringkasan Plot Utama

Novel ini berpusat pada dua karakter utama: Arka, seorang fotografer muda yang suka mengabadikan momen-momen kecil dalam hidup, dan Nara, seorang penulis lepas yang selalu mencari inspirasi di balik setiap senja. Mereka bertemu secara tak terduga di sebuah kafe kecil di pinggir kota, di mana cahaya bulan menembus jendela dan menciptakan suasana yang magis. Pertemuan itu menjadi titik awal dari rangkaian peristiwa yang menguji batas antara cinta dan kehilangan.
Seiring berjalannya cerita, Tere Liye menenun benang‑benang emosional dengan cara yang sangat halus. Arka dan Nara mulai berbagi cerita tentang masa lalu mereka yang penuh luka. Arka kehilangan orangtuanya dalam kecelakaan mobil ketika masih remaja, sementara Nara baru saja berpisah dengan kekasihnya yang memutuskan mengejar karier di luar negeri. Kedua tokoh ini menemukan kenyamanan satu sama lain, namun tak lama kemudian mereka dihadapkan pada pilihan sulit yang menguji kesetiaan hati.
Bagian paling menegangkan datang ketika Nara menerima tawaran menulis buku tentang “bulan” yang ternyata memaksa dia kembali ke kota asalnya, tempat kenangan pahit masih membayangi. Di sinilah Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan menampilkan konflik internal yang kuat—apakah mereka akan tetap bersama meski terpisah jarak, atau membiarkan rasa sakit menguasai kembali?
Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Karakter yang Membekas
- Arka: Fotografer yang selalu melihat dunia lewat lensa, namun hati tetap terasa kosong karena kehilangan orang tua. Kepribadiannya yang tenang namun penuh rasa ingin tahu membuatnya menjadi sosok yang mudah dipahami pembaca.
- Nara: Penulis yang menulis dengan hati, namun terkadang terlalu menutup diri karena trauma masa lalu. Kekuatan Nara terletak pada keberaniannya untuk membuka lembaran baru meski harus melupakan rasa lama.
- Tokoh pendukung: Sejumlah teman dan keluarga yang muncul di tiap bab, memberikan warna dan perspektif tambahan pada tema cinta dan kehilangan yang diangkat.
Karakter-karakter ini tidak hanya sekadar “kartun” yang berlari di atas kertas. Tere Liye berhasil membuat mereka terasa hidup, bahkan ketika mereka berada di tengah gelapnya malam bulan. Misalnya, ada adegan di mana Arka menatap foto lama keluarganya dan mengingat kembali aroma masakan ibunya—detail yang membuat pembaca terhanyut dalam nostalgia.
Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Gaya Bahasa dan Teknik Narasi

Salah satu keunggulan utama Tere Liye selalu terletak pada gaya bahasanya yang ringan namun sarat makna. Di Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan, ia menggabungkan dialog yang natural dengan narasi yang puitis, seolah‑olah setiap kalimatnya adalah bait puisi yang menunggu untuk dinyanyikan. Penggunaan metafora “bulan” sebagai simbol harapan dan kesedihan menjadi benang merah yang menyatukan seluruh cerita.
Teknik naratif yang dipilih Tere juga cukup cerdas: ia memakai sudut pandang ganda, bergantian antara perspektif Arka dan Nara. Cara ini memungkinkan pembaca merasakan langsung apa yang dirasakan masing‑masing tokoh, sekaligus melihat bagaimana persepsi mereka terhadap peristiwa yang sama bisa berbeda. Ini menambah kedalaman pada tema cinta dan kehilangan, karena kita tidak hanya melihat satu sisi saja.
Jika kamu pernah mengikuti Festival Komik Indonesia 2026, kamu pasti tahu betapa pentingnya visualisasi dalam cerita. Tere Liye, walaupun menulis prosa, tetap mampu “menggambar” gambar-gambar yang jelas di benak pembaca—seperti cahaya bulan yang memantul di permukaan danau, atau aroma kopi yang menguar dari kafe tempat mereka pertama kali bertemu.
Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Tema dan Pesan Moral
Selain sekadar kisah romantis, novel ini menyisipkan pesan moral yang cukup kuat. Ada tiga tema utama yang dapat diambil:
- Keberanian Menghadapi Kehilangan: Baik Arka maupun Nara belajar bahwa kehilangan bukan akhir, melainkan proses yang membuka pintu menuju pertumbuhan pribadi.
- Cinta sebagai Penyembuh: Hubungan mereka menjadi terapi yang membantu masing‑masing mengatasi trauma masa lalu.
- Waktu sebagai Penentu: Seperti bulan yang selalu berubah fase, hubungan manusia juga mengalami fase‑fase yang berbeda. Kesabaran menjadi kunci.
Jika kamu tertarik dengan bagaimana teknologi memengaruhi dunia penulisan, mungkin artikel Wattpad Berubah Algoritma Dampak ke Penulis bisa menjadi bacaan tambahan yang menarik. Kedua topik ini berbicara tentang bagaimana perubahan (baik itu dalam cerita atau platform) dapat memicu adaptasi kreatif.
Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:
- Karakterisasi mendalam: Setiap tokoh terasa “nyata” dan memiliki motivasi yang jelas.
- Penggunaan simbolisme bulan yang konsisten, menambah nuansa romantis sekaligus misterius.
- Bahasa yang mengalir, cocok untuk pembaca semua kalangan, terutama yang menyukai cerita ringan tapi bermakna.
Kekurangan:
- Beberapa bagian terasa agak lambat, terutama ketika narasi berfokus pada deskripsi cuaca atau lingkungan.
- Penutup cerita, meski emosional, bisa terasa terlalu “manis” bagi pembaca yang mengharapkan ending yang lebih realistis.
Walau begitu, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai keseluruhan novel. Sebagai pembaca, kita dapat menikmati perjalanan emosional yang diberikan oleh Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan tanpa harus terjebak pada detail yang kurang penting.
Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan – Rekomendasi Pembaca
Novel ini cocok untuk:
- Penggemar roman yang mencari cerita dengan sentuhan melankolis.
- Pembaca yang suka memikirkan makna kehidupan lewat metafora alam, khususnya bulan.
- Siapa saja yang ingin menemukan keseimbangan antara kebahagiaan dan duka dalam satu paket cerita.
Bagi kamu yang ingin menambah koleksi bacaan serupa, cek juga artikel Perahu Kertas 2: This Dream – Review Lengkap & Analisis Menarik untuk inspirasi novel dengan tema serupa yang menggabungkan unsur impian dan realitas.
Secara keseluruhan, Review Bulan Tere Liye: Cinta dan Kehilangan berhasil menyajikan kombinasi manis antara romantisme modern dan refleksi mendalam tentang kehilangan. Tere Liye tetap konsisten menyampaikan pesan-pesan positif lewat cerita yang tidak terlalu berat, sehingga pembaca dapat meresapi setiap kata tanpa merasa tertekan.
Jika kamu masih ragu apakah harus membacanya atau tidak, coba pikirkan kembali momen-momen dalam hidupmu yang pernah dibayangi oleh “bulan”. Apakah kamu pernah merasakan cinta yang datang bersamaan dengan rasa kehilangan? Jika jawabannya “iya”, maka buku ini akan menjadi cermin yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati.
Jadi, jangan ragu lagi. Ambil buku ini, siapkan minuman hangat, dan biarkan Tere Liye mengajakmu menari di bawah sinar bulan, sambil mengejar jejak‑jejak cinta yang kadang tertinggal di antara bintang‑bintang.

